Kamis, 13 September 2012

DENGARLAH KICAUNYA...


"Nikmat yang tersyukuri, musibah yang tersabari, ibadah yang diridhai, & dosa yang diampuni; Cukuplah hidup indah".

Luka, pedih, & duka bisa menimpa siapapun.
Hanya iman yang membedakan. Para peyakin akan mengharap
dari Allah dan apa yang tak dinantikan para pengingkar.

Nikmat akhirat bisa menyembuhkanmu dari derita dunia. Tapi kelezatan dunia takkan mampu menghiburmu dari kengerian akhirat.

Tersenyum ridha kala musibah & menangis bermuhasabah di saat berlimpah; adalah perilaku aneh yang surgawi & Indah.

Hidupkan selalu niat-niat kebaikan;
biar ia menghadap Allah, mengetuk pintu-pintu karunia yang memampukan kita mewujudkannya.

Niat orang beriman lebih besar, lebih baik, & lebih mulia dari 'amalnya. Kurang sumberdaya mungkin membatasi geraknya, tapi tidak hatinya.

Sarana berlindung paling aman adalah ampunan Allah; sarana bersenang paling nyaman adalah keridhaan Allah.

Andai sudi membandingkan kejelekan sesama yang kita ketahui dengan aib diri yang kita insyafi; semua orang pasti kita hormati.

Mari genapi hidup indah ini dengan menuliskan sesuatu yang layak dibaca & melakukan sesuatu yang layak ditulis.

Subhanallah, itulah perkataan dari hati dan jemari orang berilmu yang bersih niatnya hingga ia menjadi pelita Abadi hingga kefanaan ini nanti sirna berganti keabadian yang Haqiqi. Jazakumullah Khairan Ust Salim A Fillah, untuk kicauan nasihat indahnya..

Seorang Muslim yang tangguh ......

 
1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih)

Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bers


ih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam” (QS. 6:162). Karena aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam awal da’wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah SAW mengutamakan pembinaan aqidah, iman dan tauhid.

2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)

Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh)

Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an. Allah berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS. 68:4).

4. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani)

Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.

Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi. Namun jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk hal yang penting, maka Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim)

5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)

Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas). Al Qur’an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ” pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” (QS 2:219)

Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas.

Bisa dibayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.

Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang, sebagaimana firman Allah yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”‘, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS 39:9)

6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)

Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim)

7. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)

Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.

Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: “Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu”. Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.

Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi SAW adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

8. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)

Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.

Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat , berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.

9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri)

Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.

Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah SWT. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau ketrampilan.

10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)

Nafi’un lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.

Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir).

Rabu, 22 Agustus 2012

♥ Manajemen Waktu ♥


Foto: ♥ Manajemen Waktu ♥

Suatu hari, seorang ahli 'Manajemen Waktu' berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai lustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya.

Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja.

Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu kedalam toples. Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya: "Apakah toples ini sudah penuh?"

Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah!" Kemudian dia berkata, "Benarkah?"
Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan
kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya,
sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu.

Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: "Apakah toples ini sudah penuh?"

Kali ini para siswanya hanya tertegun,"Mungkin belum!", salah satu dari siswanya menjawab.
"Bagus!" jawabnya.

Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.

Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"

"Belum!" serentak para siswanya menjawab.

Sekali lagi dia berkata, "Bagus!"

Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas. Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kepada para siswanya dan bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"

Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!"

"Bukan!", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini
mengajarkan kita bahwa :
JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN
PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.

"Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu. Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya. Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu".

Sumber : Dunia Motivasi 

Suatu hari, seorang ahli 'Manajemen Waktu' berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai lustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya.

Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja.

Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu kedalam toples. Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya: "Apakah toples ini sudah penuh?"

Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah!" Kemudian dia berkata, "Benarkah?"
Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan
kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya,
sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu.

Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: "Apakah toples ini sudah penuh?"

Kali ini para siswanya hanya tertegun,"Mungkin belum!", salah satu dari siswanya menjawab.
"Bagus!" jawabnya.

Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.

Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"

"Belum!" serentak para siswanya menjawab.

Sekali lagi dia berkata, "Bagus!"

Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas. Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kepada para siswanya dan bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"

Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!"

"Bukan!", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini
mengajarkan kita bahwa :
JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN
PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.

"Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu. Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya. Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu".

Menjadi Muslimah Tangguh

 
Menjadi muslimah tangguh dan berkualitas tentu dambaan setiap wanita Islam. Namun belum banyak wanita Islam yang menjadi muslimah berkualitas dan tangguh dalam konteks sebenarnya, yakni sesuai dengan syariat Islam.

Banyak wanita Islam saat ini berprestasi dalam urusan dunia, seperti karir, pendidikan ataupun bisnis. Namun kurang kualitas akhlak, agama, ataupun terhadap keluarganya. Lantas, apa yang harus dilakukan untuk menjadi muslimah tangguh dan berkualitas sesuai syariat Islam?

"Ada empat persiapan yang harus dipenuhi jika ingin menjadi muslimah yang tangguh. Pertama, persiapan spiritual," ujar Psikolog UI, Bunda Raden Ajeng Ery Soekresno dalam acara Madrasah Muslimah bertema 'Menjadi muslimah Tangguh' di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (12/8/2012).

Persiapan spiritual, kata Bunda Ery, muslimah harus memiliki keimanan sebagai pondasi utama. Perempuan harus mempunyai kejelasan loyalitas, prinsip, dan memiliki akhlak karimah. Muslimah tangguh menurutnya juga harus banyak melakukan rutinitas ibadah seperti qiyamullail, tilawah Alquran dan dzikrullah.

Kedua, lanjut Bunda Ery, adalah persiapan intelektual. "Salehah saja tidak cukup, tapi harus diimbangi dengan intelektual. Istilahnya tidak boleh gaptek, harus memiliki pengetahuan modern serta kecakapan," tuturnya.

Ketiga, persiapan fisik. Muslimah berkualitas juga harus senantiasa sehat dan menjaga kesehatan secara teratur. "Masih muda harus banyak makan buah dan sayur biar sehat," tambahnya.

Terakhir, kesiapan materi. Menurutnya, wanita Islam harus memiliki penghasilan sendiri. Meski demikian, memperoleh penghasilan sendiri harus tetap pada jalur dan frame Allah, tanpa menelantarkan pekerjaan utama sebagai istri dan ibu

Dengan persiapan tersebut, menurut Bunda Ery, maka wanita Islam dapat menjadi muslimah tangguh ulet, tahan banting, tabah dan tahan menderita serta tidak mudah putus asa. Sebab menurutnya, menjadi muslimah tangguh bukanlah pilihan, melainkan menjadi keharusan.

"Tangguh itu sukar dikalahkan, tidak lemah, kokoh, dan tabah. Kekuatan seorang muslimah adalah selalu fresh dan tidak sakit. Implikasinya yaitu rajin menjaga kesehatan. Kaum muslimah juga harus kuat dalam kemauan dan memiliki sejuta obsesi dan mimpi yang bisa diwujudkan," jelasnya.

Bunda Ery lalu mencontohkan ketangguhan seorang Zaenab Al Ghazali, aktifis muslimah dari Mesir yang memperjuangkan hak-hak wanita namun akhirnya dimasukkan ke dalam penjara yang berisi banyak anjing. Berkat ketabahannya, Zaenab tidak mengalami luka sama sekali di sekujur tubuhnya.

"Tangguhnya Zaenab Al-Ghazali karena kekuatan dari akidahnya," imbuh Bunda Ery.

Contoh lain adalah Ummu Muhammad, istri dari pejuang Afghanistan asal Palestina, Abdullah Yusuf Azzam. Ketika mendengar berita kematian suaminya karena dibom, Ummu Muhammad tidak bersedih tapi bersyukur.

"Beliau bersyukur, alhamdulillah akhirnya Allah menempatkan suaminya di tempat sebaik-baiknya tempat. Karena tujuannya ke negara itu, Afghanistan adalah untuk mencari syahid. Tangguhnya, dia ikhlas bersyukur akhirnya bisa syahid di Afghanistan," katanya.

Kamis, 26 Juli 2012

.... MENDETEKSI LEMAHNYA IMAN ... (CIRI-CIRI IMAN KITA SEDANG LEMAH) ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Allah telah menjadikan iman seseorang bertambah dan berkurang. Bertambahnya dengan melakukan berbagai ketaatan dan berkurang dengan berbagai kemaksiatan.

Saat badan kita ringan untuk melaksanakan puasa, shalat sunnah, shadaqah serta ibadah lainnya, maka saat itulah iman kita sedang naik. Tetapi ketika ibadah terasa hambar, kemaksiatan demi kemaksiatan dilakukan, maka saat itulah iman di hati kita sedang turun.

Hari ini fenomena lemah iman telah menjadi sesuatu yang menyebar dan merata di tengah kaum muslimin. Sebagian mengeluhkan kerasnya hati mereka dengan berujar, “Aku merasa hatiku keras”, “Aku tidak dapat merasakan nikmatnya ibadah”, “Aku merasa imanku berada di titik nadir”, “Aku tidak dapat merasakan pengaruh bacaan al-Quran”, “Aku mudah terjerumus dalam maksiat” serta keluhan-keluhan lainnya.

Sungguh beruntung jika mereka merasakan bahwa iman mereka sedang turun. Kemudian ia berusaha untuk mengobati dan memperbanyak ketaatan. Lebih parahnya ketika orang-orang yang sedang lemah imannya ini tidak sadar bahwa ia dalam kondisi yang membahayakan. Yaitu lemahnya iman pada dirinya. Sehingga tidak sempat baginya untuk melakukan perbaikan karena memang mereka menganggap bahwa mereka sehat.

Ingatlah bahwa penyakit lemah iman merupakan dasar dari segala kemaksiatan, segala aib dan bencana. Berapa banyak dosa dilakukan seorang hamba dikarenakan lemah keimanannya ?.

Tema hati merupakan tema yang sensitif dan urgen. Ia dinamakan “القلب” (hati) karena cepatnya berubah. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:

“Perumpamaan hati seperti bulu di tengah padang pasir yang di bolak-balikan angin.” [Hadits dikeluarkan oleh Ibnu Abi 'Ashim dalam kitab as-Sunnah no.227 dengan sanad yang sahih dalam Dzilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah oleh al-Albani 1/102 ].

Kalbu cepat berbolak-balik, sebagaimana yang telah disifati oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dengan sabdanya:

“Sungguh kalbu anak Adam lebih cepat terbolak-balik dari pada bejana yang direbus.” [Hadits dikeluarkan oleh Ibnu Abi 'Ashim dalam kitab as-Sunnah no.226 dengan sanad yang sahih dalam Dzilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah oleh al-Albani 1/102 ].

Allah -subhanahu wata’âla- yang membolak-balikkan hati dan merubahnya sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abdullah Ibn Amr Ibn al-Ash bahwa dia mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda,

“Sesungguhnya hati/kalbu anak keturunan Adam seluruhnya berada di antara jari jemari Zat yang Maha Pengasih, seperti satu kalbu, dibolak-balikkan sekehendak-Nya.”

Kemudian Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- berdoa:

“Ya Allah, pembolak-balik kalbu, palingkanlah kalbu kami kepada ketaatan-Mu.” [HR. Muslim no.2654 ].

Allah-lah yang memisahkan antara seseorang dengan kalbunya. Seseorang tidak akan selamat kecuali datang kepada Allah dengan hati/kalbu yang selamat. Kedukaanlah bagi pemilik kalbu yang sulit untuk zikrullah (mengingat Allah). Surga dijanjikan bagi siapa yang merasa takut kepada Allah yang Maha Pengasih, padahal tidak terlihat olehnya dan datang dengan hati yang bertobat.

Seorang mukmin hatinya haruslah sensitif, menyadari penyakit yang menyusup dan faktor penyebabnya, untuk kemudian bersegera mengobatinya sebelum menjangkit dan membinasakannya. Perkaranya besar dan serius. Allah -subhanahu wata’âla- telah memperingatkan kita mengenai hati yang keras, terkunci, sakit, buta, buntung, terbalik, ternoda dan dicap dengan hati yang mati.

Ciri-ciri lemahnya iman ..

Sesungguhnya penyakit lemah iman memiliki gejala dan tanda-tanda. Di antaranya apa yang disebutkan oleh syaikh Shalih al Munajjid dalam buku beliau dhohirotu dho’ful iman. Akan kami sebutkan beberapa saja diantaranya ;

1. Terjerumus dalam kemaksiatan dan melakukan perbuatan haram.
Sebagian orang intens melakukan maksiat. Sebagian lagi hanya melakukan maksiat-maksiat tertentu saja. Ke-sering-an melakukan maksiat akan merubahnya menjadi gaya hidup, sehingga hilang pandangan buruk maksiat dari hatinya secara bertahap, yang pada akhirnya sanggup menampakkan kemaksiatan itu, sebagaimana yang terdapat dalam hadits:

“Setiap umatku diampuni dosa-dosanya kecuali yang melakukannya terang-terangan. Di antara bentuknya; seseorang melakukan maksiat di malam hari, paginya Allah telah menutupi dosanya, namun dia berkata, ‘Wahai Fulan, tadi malam aku melakukan begini dan begitu.’ Padahal dia telah bermalam dengan dosa yang tertutupi, namun paginya dia sendiri yang menyingkap apa yang telah Allah tutupi.” [HR. al-Bukhari. Fatul bâri 10/486 ].

2. Malas melakukan ketaatan dan ibadah serta cenderung melalaikan. Jika pun melaksanakan, hanyalah sekadar aktivitas kosong tanpa ruh. Allah -azzawajalla- mendeskripsikan orang-orang munafik dengan firman-Nya:

“…dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas…” (QS.an-Nisâ:142)

Termasuk juga ketidakpedulian akan luputnya musim-musim kebaikan serta waktu-waktu ibadah. Ini menunjukkan akan tidak adanya perhatian mendapatkan pahala. Mengakhirkan ibadah haji padahal mampu, enggan berjihad padahal dalam keadaan lapang dan meninggalkan shalat berjamaah sehingga berhujung pada meninggalkan shalat Jumat. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:

“Masih terus saja suatu kaum meninggalkan saf pertama, hingga Allah akhirkan mereka ke neraka.”. [HR. Abu Dâwud no.679. Shahih at-Targhib no.510 ].

Si penderita tidak sadar dengan teguran hatinya sewaktu tertidur saat masuk waktu shalat wajib, demikian pula ketika terluput melakukan shalat sunah rawatib atau meninggalkan wirid dari wirid-wiridnya. Dia tidak berhasrat untuk mengganti apa yang telah terluput itu.

Demikianlah, dia menjadi terbiasa melalaikan segala yang dianggapnya sunah atau wajib kifayah, atau bahkan sama sekali tidak menghadiri shalat ‘Id (padahal sebagian ulama mengatakan wajib melaksanakannya), tidak shalat gerhana, tidak respons untuk menghadiri resepsi kematian dan menyalatinya. Dia tidak menginginkan pahala dan tidak merasa butuh. Kontras dengan orang-orang yang telah Allah deskripsikan dalam firman-Nya:

“…Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS.al-Anbiyâ`:90)

Di antara bentuknya yang lain adalah bermalas-malasan dalam melaksanakan ketaatan. Malas melaksanakan sunah rawatib, shalat malam, bersegera ke masjid, atau ibadah-ibadah lain semisal shalat dhuha. Jika ibadah-ibadah tersebut saja tidak terbetik dalam pikirannya, apatah lagi dengan shalat taubah atau shalat istikharah.

3. Pemanjaan diri yang berlebihan dalam makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan kendaraan.

Engkau dapati dia begitu konsentrasi dengan kebutuhan tersier (bukan kebutuhan pokok) dengan perhatian yang berlebihan. Memuaskan diri dan memaksakan diri membeli pakaian yang mahal, menikmati interior mewah dan menghamburkan harta dan waktunya untuk kemewahan yang bukan kebutuhan darurat (primer), padahal saudaranya dari kaum muslimin di sekitarnya ada yang sangat berhajat kepada harta itu.

Dia terhanyut hingga tenggelam dalam kenikmatan dan kemewahan yang dilarang, sebagaimana yang terdapat dalam hadits Muadz Ibn Jabal -radiallahu’anhu- ketika diutus oleh Nabi -shalallahu alaihi wasalam- ke Yaman dengan wasiat :

“Hindarilah memuaskan diri, sesungguhnya hamba Allah bukanlah dia yang suka memuas-muaskan diri.” [As-Silsilah as-Shahihah no.353 ].

Demikianlah beberapa tanda-tanda orang yang sedang lemah imannya. Dan masih banyak lagi beberapa fenomena lemahnya iman lainnya yang tidak kami paparkan di sini karena keterbatasan lembar-lembar buletin ini. Semoga yang sedikit ini menyadarkan kita jika dalam kondisi lemah iman, dan berusaha untuk mebenahi diri sehingga iman kita menjadi kuat.

Barakallahufikum ....